TUGAS INDIVIDU
MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI
Dosen : Dr. Prima Endang Susilo, M.Si
NAMA : SRIMULIANA
NIM : O1A119051
KELAS : FARMASI B
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2021
TUGAS II MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI
1. Gambar dan atau penjelasan proses tumbuh/cara berkembang biak masing2 mikroorganisme yang anda contohkan (di tugas 1)
|
Golongan mikroorganisme |
Nama Mikroba |
Cara Berkembang Biak |
|
Bakteri |
Streptococcus lactis |
Ø reproduksi asekual Reproduksi biasa dilakukan bakteri dengan pembelah biner dan dapat berlangsung hingga tiga fase, yaitu sebagai berikut: 1. Fase pertama, bakteri terbelah secara garis lurus 2. Fase kedua, terbelahnya bakteri menciptakan dinding sel baru 3. Fase ketiga, membentuk sel identik Secara umum bakteri membelah diri 20 menit sekali dalam 1 jam maka 8 sel bakteri. Ø Reproduksi seksual Dilakukan dengan 3 cara 1. Transformasi (pemindahan sebagian materi genetic dari satu ke lainnya) 2. Transduksi (pemindahan sebagian materi genetic dari satu bakteri ke bakteri lain dengan perantara virus) 3. Konjugasi (pemindahan sebagian materi genetic dari satu bakteri ke bakteri lainnya, melalui kontak jantung
|
|
Fungi |
Amanita phalloides (Parasite) |
Jamur Amanita phalloides Ini adalah basidiomycete yang mereproduksi oleh spora reproduksi yang disebut basidiospora. Setiap basidiospore melekat pada carpoforph melalui hymenophore. Setiap sel miselium menyajikan inti yang berdiferensiasi sebagai positif atau negatif; kelangsungan hidup jamur membutuhkan penyatuan inti yang berlawanan. Melalui fibula, sel-sel misel bergabung memastikan keberadaan dua nukleus dari tanda yang berlawanan per sel. Proses bergabung dengan dua inti haploid memungkinkan penciptaan zigot atau miselium dikaritika sekunder. Miselium sekunder ini berkembang dan tumbuh di bawah tanah untuk waktu yang lama sebagai bagian dari mikoriza tanah. Selanjutnya, melalui divisi dan transformasi yang berurutan, jamur atau basidiocarpo - micelium tersier - yang menonjol dari tanah terbentuk. Akhirnya, pada tingkat lamellae, dua nuklei haploid bergabung sehingga menimbulkan basidiospora diploid.. Spesies ini juga dapat bereproduksi secara vegetatif dengan fragmentasi atau pemisahan. Dalam hal ini pemisahan atau pecahnya bagian thallus atau miselium dari mana individu baru terbentuk.
|
|
Protozoa |
Cryptosporidium spp (Parasite)
|
Cryptosporidium sp. dimulai ketika ookista matang yang telah mengandung4 sporozoit ikut tertelan bersama air minum atau sumber air yang telah terkontaminasi feses hospes yang terinfeksi atau dapat juga terhisap dari sekret saluran respirasi hospes terinfeksi. Setelah masuk ke dalam tubuh manusia ookista matang tersebut mengalami ekskistasi. Sporozoit dilepaskan dan menginfeksi sel epitel pada saluran gastrointestinal dan dapat juga pada saluran pernapasan, yang kemudian disebut meront. Kemudian meront tersebut akan mengalami perkembangan aseksual (skizogoni atau merogoni)danmenghasilkan merozoit yang memasuki sel lain. Perkembangan selanjutnya adalah seksual (gametogoni) yang menghasilkan mikrogametosit (jantan) dan makrogametosit (betina). Mikrogametosit dan makrogametosit ini akan berkembang menjadi mikrogamet dan makrogamet yang selanjutnya akan fertilisasi menghasilkan ookista yang mengandung 4 sporozoit. Ookista yang dihasilkan, berukuran diameter 4-6 μm, terdiri dari 2 jenis yaitu ookista berdinding tebal yang akan diekskresikan dari hospes bersama feses dan ookista berdinding tipis yang umumnya berperan dalam terjadinya autoinfeksi dengan mengeluarkan sporozoit di dalam usus pada tubuh hospes.
|
|
Alga mikroskopis |
Volvox |
Dengan menggunakan sel-sel vegetatif yang ukurannya lebih besar dari sel vegetatif lainnya yang terdapat di dalam koloni. Sel-sel itu dinamakan gonidia yang merupakan sel pemula. Koloni anak gonidia akan membelah berulang kali sehingga terbentuk koloni baru yang berukuran kecil, yang kemudian lepas dari koloni induk dan tumbuh menjadi koloni Volvox baru.Perkembangbiakan generatif Volvox secara oogami sebagai berikut. Di dalam koloni terdapat sel vegetatif yang lebih besar dari sel vegetatif yang lain. Sel vegetatif tersebut akan berkembang menjadi anteridium yang menghasilkan anterozoid dan oogonium yang menghasilkan sel telur (ovum). Ovum yang telah dibuahi menjadi zigot yang kemudian mengalami pembelahan, sehingga terbentuk koloni anak. |
|
Virus
|
Herpesvirus varicellae (Parasite)
|
Patofisiologi cacar air (varicella) dimulai pada saat varicella-zoster virus (VZV) masuk ke tubuh melalui mukosa saluran nafas atau orofaring. Pada fase viremia pertama terjadi penyebaran virus dari lokasi masuknya virus menuju ke pembuluh darah dan limfe. Selanjutnya VZV akan berkembang biak di sel retikuloendotelial. Pada kebanyakan kasus, virus dapat mengatasi mekanisme sistem imunitas tubuh non-spesifik seperti interferon. Fase viremia kedua terjadi 14-16 hari kemudian ketika virus kembali memasuki aliran darah. Pada saat ini akan muncul demam dan malaise. Terjadi penyebaran virus ke seluruh tubuh, khususnya kulit dan mukosa. Infeksi VZV pada lapisan Malphigi menghasilkan edema intraselular dan edema interselular yang memberi gambaran khas pada bentuk vesikel. Pada keadaan normal siklus ini akan berakhir setelah 3 hari akibat berhasilnya sistem kekebalan humoral dan selular spesifik. Timbulnya penyulit diakibatkan kegagalan respons imun tubuh mengatasi replikasi dan penyebaran virus.
|
|
Archaea
|
Sulfolobus solfataricus
|
Reproduksinya adalah aseksual. dapat berkembang biak secara aseksual dengan membelah diri (pembelahan biner) pada lingkungan yang tepat atau sesuai. Reproduksi bakteri dapat berlangsung dengan sangat cepat. Pada keadaan optimal, beberapa jenis bakteri dapat membelah setiap 20 menit. Anda bisa menghitung jumlah bakteri hasil reproduksi dalam waktu 1 jam atau 1 hari, dengan rumus 2n (n jumlah pembelahan). Pada kondisi yang kurang menguntungkan, sel-sel bakteri dapat mempertahankan diri dengan pembentukan spora (endospora). Endospora artinya spora yang terbentuk di dalam bakteri. Akan tetapi, ada pula jenis bakteri yang akan mati karena perubahan faktor lingkungan. Faktor lingkungan ini adalah cahaya matahari yang terus-menerus, kenaikan suhu, kekeringan, dan adanya zat-zat penghambat dan pembunuh bakteri, seperti antibiotika dan desinfektan.
|
2. Tuliskan waktu generasinya masing-masing
Jawab :
a. Streptococcus lactisà 139 menit
b. Amanita phalloidesà 8-12 jam
c. Cryptosporidium spp à 12-14 jam
d. Volvoxà 48 jam
e. Herpesvirus varicella à 9-12 jam
f. Sulfolobus solfataricusà 4-6 jam
3. Tuliskan alat, bahan dan prosedur (diagram alir): 1 metode untuk mengetahui pertumbuhan sel
Sertakan bagaimana cara menghitung data dari eksperimen tersebut
Jawab :
Metode turbidimetri merupakan cara yang cepat untuk menghitung jumlah bakteri dalam suatu larutan dengan menggunakan alat spektrofotometer. Digunakan untuk uji antibakteri, dimana jumlah bakteri nya dihitung dengan membandingkan kekeruhan suspensi bakteri dengan menggunakan larutan standar McFarland. Larutan McFarland standar digunakan sebagai referensi untuk menyesuaikan kekeruhan bakteri suspensi sehingga jumlah bakteri dalam kisaran yang diberikan untuk membakukan mikroba pengujian[4].Contoh pengujian tersebut adalah antibiotik kerentanan pengujian oleh pengukuran konsentrasi penghambatan minimum yang secara rutin digunakan dalam medis mikrobiologi dan penelitian. Jika suspensi yang digunakan terlalu pekat atau terlalu encer, hasil yang salah (tahan palsu atau palsu rentan) untuk setiap agen antimikroba yang diberikan bisa terjadi.
a. Alat
Alat-alat yang digunakan dalampenelitian ini yaitu:Timbangan, blender,gelas ukur, tabung reaksi dan rak tabung reaksi, kapas steril, pipet ukur, ose steril, lampu spiritus,incubator, kain saring,autoclave,piring petri, kain saring, oven.
b. Bahan
Bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:Air perasan bawang putih (Allium sativum L), bakteri Staphylococcus aureus, brain heart infusion broth(BHI-B), larutan BaCl21,175% 0,1 mL, larutan H2SO41% 9,9 mL, akuades, larutan NaCL, trypticase soya agar (TSA).
c. Prosedur
![]() |
Diambil 500 gr bawang
merah dan diblender hingga halus, kemudian
disaring dengan
mengunakan kertas saring, dan air hasil penyaringan tersebut disimpan dalam
botol kaca yang tertutup.
Disterilisasi
alat-alat yang digunakan,
disterilkan dengan oven pada suhu 180oC- 200oC
selama satu jam, sedangkan untuk media disterilkan dengan autoclave 0oC
selama 15 menit.
Diambil bakteri Staphylococcus
aureus
Ditimbang Nutrient Agar (NA) sebanyak 23 gram lalu
dilarutkan dengan 1 liter akuades mengunakan tabung Erlenmeyer,kemudian
dihomogenkan dan dituang ke dalam tabung reaksi steril yang ditutup dengan
aluminium foil. Media tersebut disterilkan ke dalam autoclave pada suhu 121oC
selama 30 menit sampai media memadat pada kemiringan 30o.
Ditimbang
media Brian Heart
Infusion Broth (BHI-B) sebanyak 37 gram dan dilarutkan dalam 1 liter akuades
dalam tabung Erlenmeyer, kemudian dihomogenkan. Setelah homogen Media
disterilisasi dalam autoclave pada suhu 121° C selama 15 menit.
Diremajakan
pada media agar miring, kemudian diambil koloninya dari media agar
miring dengan menggunakan jarum ose steril.
Dibuat
media Trypticase Soy Agar (TSA)Sebanyak 40 g bubuk TSA dilarutkandalam
1 liter akuades dalam tabung Erlenmeyer,
kemudian
dihomogenkan. Setelah homogen media disterilisasi dalam autoclave pada
suhu 121oC selama 15 menit, dan media dituang pada piring petri.
|
Hasil penelitian dengan metode turbidimetri, konsentrasi hambat minimum air perasan bawang putih terhadap bakteri Staphylococcus aureusyaitu pada konsentrasi 1,56%. Hal ini terlihat dari mulai jernihnya larutan dalam tabung nomor 7 dengan konsentrasi 1,56% pada perlakuan pertama dan kedua, yang berarti pertumbuhan bakteri sudah dapat terhambat. Pada konsentrasi yang lebih rendah yaitu konsentrasi 0,39%-0,78% larutan terlihat semakin keruh mendekati kekeruhan dari tabung K(+) yang berisi bakteri Staphylococcus aureus. Hal ini disebabkan karena konsentrasi yang rendah, sehingga kemampuan dari air perasan tidak mampu menghambat pertumbuhan bakteri, sehingga pertumbuhan bakteri dapat terjadi.
Hasil penelitian selanjutnya menggunakan spektrofotometer menunjukkan bahwa bahwa nilai absobansi setelah inkubasi pada perlakuan pertama dan kedua mengalami perubahan (turun) dimulai pada konsentrasi 3,125% dan seterusnya ke konsentrasi yang lebih tinggi. Selanjutnya pada konsentrasi yang lebih rendah dari konsentrasi 3,125% yaitu 1,56%-0,39% terjadi peningkatan nilai absorbansi (pada perlakuan pertama dan kedua) sesudah inkubasi dari nilai absorbansi sebelum inkubasi yang menandakan bahwa pada ketiga konsentrasi tersebut masih terdapat pertumbuhan bakteri. Nilaiabsobansi yang besar (bertambah) menunjukkan pertumbuhan bakteri terus berlangsung, sedangkan nilai absorbansi yang tetap atau berkurang menunjukkan pertumbuhan bakteri terhambat
4. Kenapa seorang farmasis harus tahu: (Jelaskan)
a. Pertumbuhan sel
Jawab :
Di dunia farmasi memiliki ketarkaitan yang erat dengan ilmu biologi terlebih lagi tentang sel, dikarenakan pada bidang farmasi terjadi perkembangan yang pesat terkait kebutuhan obat-obatan. Melalui perkembangan ilmu biologi inilah dicoba melakukan pemanfaatan dalam bentuk rekayasa genetik dan perkembangan sistem biologi sehingga menemukan inovasi-inovasi baru.
Dalam ilmu kefarmasian hal ini perlu dipelajari guna mengetahui lapisan-lapisan yang membentuk tubuh sel sehingga farmasi dapat memberikan obat sesuai dengan tingkat atau sasaran yang diinginkan.
b. Proses perkembang biakan sel mikroorganisme
Jawab :
Sebagai seorang mahasiswa farmasi kita harus mengetahui proses perkemabang biakan sel mikroorganisme. Hal ini sangat penting karena misalnya saat ada seorang pasien yang sakit karena terinfeksi mikroorganisme, Maka kita bias memberikan obat yang sesuai dengan dosis yang sesuai juga. Saat misalya seseorang terinfeksi bakteri, bakteri seperti yang kita ketahui memiliki beberapa fase hidup, nah disitulah pentingnya seorang mahasiswa farmasi mengetahui pertumbuhan mikroorganisme. Karena saat penderita telah mengalami penyakit karena infeksi tadi maka mahasiswa farmasi sudah paham pada fase mana obat harus diberikan, atau berapa dosis yang harus diberikan sebelum bakteri tadi berkembang biak menjadi lebih banyak, atau obat ini harus bekerja berapa lama agar bakteri tadi hiang. Jadi, intinya, itu sangat penting untuk diketahui oleh seorang mahasiswa farmasi.
5. Metabolisme Volvox
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisio : Chlorophyta
Class : Chlorophyta
Ordo : Volvocales
Family : Volvocaceae
Genus : Volvox
Spesies : Volvox sp
Volvox merupakan koloni yang besar, tersusun dari sel-sel semacam Chlamydomonas yang bulu cambuknya menghadap ke arah luar. Bulu cambuk inilah yang menyebabkan Volvox dapat berpindah tempat. Jumlah sel dalam koloni bervariasi dari 500 -20.000 sel, tergantung pada spesiesnya. Volvox aureusterdiri dari 500 sampai 600 sel, Volvox globator merupakan spesimen terbesar dan terdiri dari kurang lebih 20.000 sel. Reproduksi aseksual dengan fragmentasi danseksual dengan konjugasi sel-sel gamet. Di satu sisi, Volvox menunjukkan jenis multi seluleritas yang relatif ramping. Ini hanya memiliki dua jenis sel, dan sel-sel ini tidak diatur ke dalam jaringan atau organ.
Amonia dan fosfat merupakan bahan metabolisme bagi alga. Maka seiring perkembang biakan alga, konsentrasi amonia dan fosfat akan menurun. Penurunan konsentrasi amonia dan fosfat akan berbanding terbalik dengan konsentrasi klorofil-a. Semakin meningkat konsentrasi klorofil-a, maka konsentrasi amonia dan fosfat akan semakin menurun. Hal ini karena peningkatan konsentrasi klorofil-a menunjukan peningkatan jumlah alga yang menggunakan amonia dan fosfat sebagai bahan metabolismenya. Selain dari alga, penurunan kadar nutrien dalam reaktor juga dipengaruhi oleh keadaan lingkungan seperti intensitas cahaya, suhu, dan pH. Pengaruh lingkungan yang ideal akan membuat alga bekerja dengan efisien dalam menurunkan konsentrasi nutrien.
a. Cara mikroba memperoleh niitrogen sebagai unsur pembentuk asam amino yang digunakan untuk pembangun komponen sel
Nitrogen dapat ditemui di setiap badan air dalam bermacam – macam bentuk, yaitu NH3, N2, NO2-, NO3-. Bisanya senyawa –senyawa nitrogen tersebut adalah senyawa terlarut. Selain itu nitrogen juga dapat ditemui dalam bentuk senyawa – 5 senyawa organik seperti protein sisa tanaman dan sebagainya
Nitrogen dibutuhkan oleh seluruh jaringan hidup tempat berlangsungnya aktivitas – aktivitas utama sel, misalnya fotosintesis dan respirasi. Dengan demikian aktivitas – aktivitas tersebut sangat dipengaruhi oleh kandungan nitrogen dalam sel. Kekurangan nitrogen dapat menghambat produktivitas pakan alami terutama yang mengandung klorofil. Bila tumbuhan kekurangan nitrogen maka pembentukan klorofil akan terganggu, pada umunya tumbuhan menyerap nitrogen dalam bentuk nitrat (NO3-) atau amonium (NH4+). Nitrogen yang terdapat dalam air limbah segar terbentuk dari kombinasi protein dan urea. Bakteri akan mendekomposisinya menjadi bentuk amoniak. Dalam kondisi aerobik, amoniak dioksidasi menjadi nitrit dan nitrat, nitrogen dalam bentuk nitrat dapat dimanfaatkan kembali untuk membentuk protein oleh alga dan tumbuhan lainnya
Nitrogen di dalam protoplasma diuraikan dari bentuk organik menjadi bentuk anorganik oleh suatu seri bakteri (dekomposer). Sebagian dari nitrogen berakhir sebagai nitrat, bentuk yang paling siap untuk digunakan oleh tumbuh – tumbuhan hijau. Udara yang mengandung 80 % nitrogen, merupakan waduk terbesar dan katup pengaman sistem. Nitrogen terus – menerus memasuki udara oleh kegiatan bakteri pengurai nitrogen dan secara terus – menerus kepada daur melalui kegiatan bakteri pengikat nitrogen atau algae dan melalui peristiwa halilintar (yaitu elektrifikasi). Tahap – tahap dari protein turun ke nitrat memberikan energi untuk organisme – organisme yang melaksanakan pemecahan, sedangkan langkah – langkah kembalinya memerlukan energi lain, seperti misalnya bahan organik atau sinar matahari

Tidak ada komentar:
Posting Komentar